Emails : Komunikasi dan Prioritas?

Ini adalah penggalan email2an dari seorang sohibku yg tinggal dibelahan bumi lain.
Temanku ketika kecil.. dari TK, SD, SMP... sampai kita tidak satu SMA lagi.
Lamaaa.. sekali kami tak bersua, tapi lebih sering kami kontak lewat email ataupun YM.
Meski dia tinggal jauh tapi ku merasa dekat, karena seringnya kita berkomunikasi.
Apakah kedekatan diakibatkan karena intensnya komunikasi??
----------------------------------
Walaikumsalaam, Na
Iya, Alhamdulillah kita diberi hidayah untuk menyadari arti dan tujuan hidup ini. Tapi namanya manusia selalu saja terlena akan nikmatnya dunia fana ini.
Sebenarnya Allah hanya menyuruh kita untuk memberikan prioritas utama terhadapNYA, tapi bagi kita yg masih cinta dunia seakan sulit untuk menentukan prioritas kepentingan dan manajemen waktunya.
Alhamdulillah juga ya Na... nikmat yang terbesar adalah kita semua terlahir muslim sehingga lebih mudah bagi kita untuk mengeksplore info dan ilmu Allah melalui qur'an dan hadits.
Tapi malu rasanya... membaca qur'an sampai kini masih juga belum fasih bahkan untuk hafalan... Astagfirullah.... hiks!
Jazakillah ya Nana buat tulisannya yg mengingatku akan kelalaian diri akan waktu dan prioritas....
Do'akan semoga aku dapat menjalani hidup ini selalu di jalan yang diridhoi Allah ya, Na.
InsyaAllah ... kita saling mendo'akan untuk semua saudara2 muslim yg hidup di bumi Allah... amiin.
wassalam,
L
-------------------------------------------------------------
“Ya Allah, berilah kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari maksiat kepadaMu, dan berilah kami kepatuhan yang dapat menyampaikan kami kepada surgaMu, dan berilah kami keyakinan yang dapat memudahkan kami menghadapi berbagia musibah dunia. Dan berilah kami kenikmatan dengan pendengeran kami, penglihatan kami, kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah hal ini terus beserta kami. Jadikanlah bala kami hanya menimpa orang-orang yang zhalim kepada kami. Dan tolonglah kami untuk menghadapi orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam hal agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sesuatu yang paling kami gandrungi dan tujuan akhir ilmu kami, dan janganlah Engkau beri kekuasaan kepada orang yang tidak akan menyayangi kami..” (HR at-Tirmidzi).
Waktu SD dulu, saya sering sekali termenung akan arti dunia. Dibesarkan di keluarga di mana topik-topik berat seperti, “apa arti dunia di dalam Al-Qur’an”, ataupun “apa arti shalat sesungguhnya” tidak pernah dibicarakan, sering membuat saya berpikir sendiri akan arti kata dunia.
Saya pikir dunia berarti kekayaan yang melimpah ruah, kesenangan yang diperoleh dengan cara yang salah seperti ke night club, dan jabatan dan pangkat yang membuat manusia terlupa akan semuanya, keluarga, sahabat, juga tentunya, Allah SWT. As long as we are working in a halal way, studying as hard as we can sesuai dengan harapan yang muncul (dari orang tua, public, dan guru), then I am fine. Saya tidak terjebak dengan dunia. Saya akan mengejar apa yang seharusnya dikejar. Tapi, menurut siapa? Pertanyaan yang sering muncul namun saya indahkan, karena di saat kita hidup di sebuah lingkungan, manusia cenderung mengikuti arus lingkungan itu. Kemana lingkungan itu menempatkan biduk haluan, di situlah kita cenderung untuk mengikuti. Go with the flow, begitu kata orang sini. Di saat orang semua ingin kuliah ke luar negri, saya ingin juga kuliah ke luar negri. Di saat semua orang beli sebuah jam yang bermerk, ‘cause it’s so darn trendy’, saya juga ingin jam yang sama. Di saat semua orang bersifat galak di tempat kerja akibat penekanan yang kadang begitu kuat dari atasan dan work-load, otomatis saya juga mulai berubah menjadi kasar dan keras, betapapun ada bisikan di hati menyikut, “sabar Na…”. Karena ada bisikan lain menimpali, “mau sabar sampai kapan?”. Betapa saya na’if. Betapa prioritas kita berubah mengikuti apa yang ada di depan kita, apa yang kita rasakan, tanggung jawab yang dimiliki, pekerjaan, tantangan yang memang sejak awal juga kita yang memilih.
Ketika seseorang mengenal apa arti kedekatan kepada sang Pemegang hati, Pemegang segala takdir, Pemegang segala rasa, Pemegang segala asa, harapan, dan tentunya, segala jawaban, semua prioritas berubah. Sesuatu yang tadinya aneh dan tak lazim, menjadi kebutuhan. Sesuatu yang tadinya dianggap membosankan menjadi sangat menyenangkan, menjadi sangat nikmat, menjadi sangaaat…. mengharukan. Air mata tak henti mengalir dengan sebaris perkataan, “Rabbi, maafkan aku..”. Sebuah lafaz ayat menjadi amat menakjubkan. Tiba-tiba kesendirian menjadi amat berharga. Menjadi amat dicari, menjadi waktu yang di tunggu. Karena waktu-waktu itu adalah waktu yang termanis, waktu yang terindah. Berdialog dengan si empunya waktu. Terkadang, manusia tidak sadar akan nikmat yang tak terhingga yang tak akan pernah dapat dibeli dengan uang. And sometimes we take things for granted so much, yakin, bahwa waktu itu tak akan hilang, rasa yang indah tak akan hilang.
How wrong have I been. When that feeling leaves you, your heart dies.
Sudah 3 minggu ini saya menjalani kursus menjadi guru bahasa Inggris, intensive. Waktu-waktu habis untuk belajar, dan mengajar, dari pukul 9 pagi hingga pukul 7 atau 8 malam. Ada kompetisi tersendiri yang tercipta dari 9 teacher trainees di kelas saya. Perlahan tapi pasti hari-hari kami dihiasi dengan persiapan lesson plan, belajar mengenal pribadi murid, belajar kreatif untuk menaikkan semangat murid, dan belajar keras untuk menerima kritikan pedas dari pembimbing.
Perlahan tapi pasti, kursus ini menjadi hidup kami. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit perhatian saya terkuras kepada, “Bagaimana nanti assessment saya, apakah lesson ini sudah cukup menarik buat murid? Bagian grammar apa yang harus saya cari untuk mengajar besok? Bagaimana mempersiapkan ruangan agar proses mengajar dan belajar menjadi lebih terarah dan kondusif…?”. Dan betapa semua raga ini terkuras sehingga tinggal tidur saja yang menjadi keinginan saya ketika hari habis.
Subhanallah. Perlahan tapi pasti perhatian saya hilang dari lantunan Qur’an dan bahasan tafsir yang sebelumnya begitu memikat, tercuri keinginan untuk menyelesaikan tugas untuk esok. Tercuri keinginan untuk menjadi guru yang memikat bagi murid. Tercuri ambisi.. untuk menjadi yang terbaik di kelas.
Perhatian dari ingin berkumpul dengan sahabat-sahabat saya yang sholehah….perlahan mulai mati. Perlahan mulai hilang. Dan perhatian saya kepada diriNya mulai pudar. Dan di saat rasa rindu itu datang, di saat rasa sepi itu hadir, begitu berat rasanya hati ini menghiba di hadapanNya. Begitu berat rasa di hati ini untuk sekedar menelefon sahabat-sahabatku untuk sekedar mengucapkan, “temani saya….”
Lalu, ketika terlewatkan ibadah yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam hidup ini, hati mulai sadar, dunia telah menipu saya. Bahwa dunia juga adalah segala kesibukan yang tidak mengingatkan saya kepada Allah. Bahwa dunia hadir dalam berbagai bentuk. Dan dunia, oh dunia, dengan manisnya memikat dan sekaligus mematikan hati seseorang. Astaghfirullah.
Hanya sebuah refleksi diri…. Maafkan saudarimu ini yang tiba-tiba hilang dari peredaran..
Doakan saya.
Wallahu’alam
N
Pix: gettyimages