« Home | TAKUT » | SPAM EVERY WHERE » | Wil (ikut) ke sekolah » | Silaturrahmi itu... » | Saat di dapur bersama... » | Lion dance » | Pingin hidup seperti apa? » | Sesuatu ada misinya? » | Iseng » | TAWAZUN? »

A friend indeed

Pagi itu begitu cerah seakan bersahabat dengan hari istimewa bagi pangeran kecilku. Kenapa aku merasa ini istimewa? Hari ini hari pertama Hafiz bersekolah. Aku akan mengantarnya sebelum pukul 8 pagi ini.

Bersyukurlah aku, sekolah Hafiz tidak jauh; bisa dibilang dekat. Kami hanya menyebrang jalan Wellington circle di depan blokku. "Hafiz, this is the day that you're longing, are you happy, dear?" sambil kukancingkan baju seragamnya. Kulihat pangeranku begitu berseri, " Yes, Mama... I will meet so many children there. " Dia melompat-lompat riang gembira, sambil kusibukkan dengan memakaikan jaket dan tas punggungnya. Tas punggungnya sudah kuisi dengan bermacam bekal. Aku ingin anakku menjadi yang paling gagah dan ganteng diantara teman sekelasnya. dan akupun harus berdandan serapih mungkin biar tampil cantik dan wangi dimata ibu-ibu nanti, dong. Kusisir dan kujepit rambutku yang kemarin baru kuhighlight di salon, dan tak lupa kuoleskan mood matcher lipstickku... ups... hampir lupa musti kusemprotkan Misty-mind from body shop dong biar seger wanginya. Nah! kupatut diriku di depan cermin, meski aku seorang homemaker tapi musti tampil bagaikan seorang tai-tai.
"Maak... kami pergi dulu ya, Mak! Lam lekuuum," aku berteriak pamit kepada ibu mertuaku yang sedang di kamar mandi.

Sudah banyak para orangtua dan anak-anak berkumpul di Sembawang Kindergarten. Tentu saja lebih banyak kulihat yang bermata sipit daripada yang berkulit coklat sepertiku. Naah... nampaknya ibu-ibu berjilbab disana golongan Melayu, kudekati langkahku ke arah mereka. "Hello kakak-kakak, ada ke anak kakak yang masuk class nursery apple?" Hmmm... logat melayuku sudah fasih, telah terlatih dengan keluarga suami dan tinggal selama hampir 5 tahun di Singapura. Aku tak mau mereka mengetahui aku orang Indonesia, pasti mereka akan memandang rendah diriku. Tapi kini tidak lagi, bulan lalu aku sudah menukar paspor hijauku. Huh! tapi, ternyata orang Melayu disinipun kampungan gayanya. Mereka kebanyakan tak pandai dandan, ciih... payah. Aku terkadang lebih suka ngobrol dengan mereka yang chinese. Pikirannya lebih open minded, modern dan tidak kampungan. Meski mereka beda agama ... hmmm sebenarnya saya ingin lebih terlihat modern dan tidak kolot dan juga tidak merasa direndahkan.

"Hi, is you child in nursery apple, sister?" Membuyarkan lamunanku. Seorang wanita berjilbab, ayu dan ramah sambil menggandeng anak laki-laki dan mendorong strollernya. " Iyelah, ini Hafiz, anak lelaki saye. And you?" Kuamati mukanya yang penuh peluh dengan bajunya yang panjang. Mau-maunya dia pake baju yang bikin gerah begitu ya...

" Nama saya Ginuk, Kak. Anak saya Abdullah. Ini yang kecil Amina. Kami sekeluarga dari Indonesia. Kakak paham kan bahasa Indonesia?" Mengejutkan saya, jarang sekali saya menjumpai orang indonesia tinggal disini. Berkerudung pula. Hmmm.. nanti saja kalau sudah mengenal betul, baru akan saya ceritakan kalau sayapun orang Indonesia juga.

" Waah... senang nyee Hafiz dapat kawan dari Indonesia. Hafiz, take your friend, Abdullah inside the class." Hafiz menyambut gembira uluran tanganku pada temannya. Beberapa saat kulihat Hafiz sudah berinteraksi dengan Abdullah. Sementara aku masih asyik memperhatikan Ginuk yang sibuk dengan Amina namun matanya juga memperhatikan Abdullah, anaknya.

--- to be continued ----

this story is only a fiction, factual similarity only based on coincidence. I will continue when I already in mood...;))

maaf lia, aku tidak ingat. ini lia yang mana ya? care to refresh my memory?

"bulan lalu aku sudah menukar paspor hijauku."

Sudah pindah warga negara ke Singaporean, Mbak? :)

BTW, met kenal. :)

Post a Comment

Archives

Hadist

"Jika hamba-Ku berniat melakukan kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, Aku menulis baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, Aku menulis sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat untuknya

Dan jika ia berniat melakukan kejelekan dan ia tidak melakukannya Aku tidak menulis kejahatan baginya, dan jika ia melakukannya Aku menulis satu kejahatan baginya." [HR. Muslim] --

Free Counter
Free Counter