« Home | Capek? Nope... I musn't » | Mengapa cerita? » | A friend indeed » | TAKUT » | SPAM EVERY WHERE » | Wil (ikut) ke sekolah » | Silaturrahmi itu... » | Saat di dapur bersama... » | Lion dance » | Pingin hidup seperti apa? »

BeTah?

Ngepost tulisan lama...

------------------
"Bagaimana rasanya tinggal di Singapur?" tanya temen lamaku ketika chatting. ”Alhamdulillah, rasanya aku kok seperti tidak merasa tinggal di luar negeri ya.” kataku setelah merenungkan situasi. “Iya itu karena kamu kalo pulang nengok orangtua di Pekanbaru dekat saja.” timpalnya. Pertanyaannya tentang perasaanku tinggal di Singapura ini membuat aku berpikir juga. Lalu kutulis beberapa kata dan kirim “Bisa jadi karena Singapura dekat Indonesia. Disini juga banyak orang Indonesia. Aku kalau ke pasar seringkali ketemu orang sebangsa. Kan banyak yang kerja disini jadi pembantu, juga kalo jalan2 di Orchard banyak turis indonesia.” Dalam hati sebenarnya aku membenarkan komentar temanku yang sekarang tinggal di Amerika yang lebih banyak ketemu bule daripada orang Asia. Lalu dia membalas, “Jadi Itu artinya kamu betah dong ya tinggal disana?”

Betah? Kata yang sering terdengar setiap kali aku bertemu orang bila tahu aku sekarang tinggal disini. Bisa jadi dibilang betah karena aku sudah terbiasa dengan rutinitas. Aku sudah terbiasa dengan keseharian mengurus rumah tangga dan kehidupan di lingkungan tempat tinggalku. Tapi istilah “Betah” ini sebenarnya melalui proses panjang. Ada kalanya aku rindu pulang, rindu teman, juga rindu orang tua. Tidak terasa hampir lima tahun aku mukim di negeri Singa ini.

Jadi ingat ketika pertama kali datang kemari.


Singapura, rasanya bukan daerah asing bagiku. Alhamdulillah lebih dari sekali aku mengunjunginya meski cuma sekedar jalan-jalan dan window shopping di Orchard road. Hmmm... aku sudah membayangkan tempat tinggalku yang modern, berpergian dengan MRT yang apik dan kota dengan lingkungan yang bersih dan teratur. Wah pasti menyenangkan terlepas dari menyetir dalam kemacetan dan berbelanja di pasar becek, begitu pikirku.

Ketika mendengar rencana suami untuk kerja di Singapura, aku merasa tertantang. Ada tantangan tinggal di lingkungan baru. Selama ini sejak menikah, kami tinggal di Pekanbaru, satu kota dengan orang tuaku. Bahkan kami sama-sama tinggal dilingkungan yang sudah kulalui sejak kecil.

Tapi tahun pertama disini, aku merasa belum bahagia. Rasanya hari-hariku membosankan. Setiap hari setelah suami kerja rutinitasku hampir sama, membersihkan rumah, belanja, masak dan bermain dengan anak perempuanku yang kala itu berumur 2 tahun. Rasanya hidupku hanya bernuansa hitam putih. Aku jenuh, mungkin karena kesepian. Meski Makcik, jiran sebelah rumah sering mengajak ngobrol dan mengantar masakan. Namun aku butuh teman untuk bertukar pikiran dan punya kesamaan hobi.

Lima tahun yang lalu, perasaanku mungkin tidak sama dengan sekarang. Kala itu hatiku masih penuh dengan tekad-tekad idealis, keinginan untuk menunjukkan potensi diri menjadi wanita karir masih menggebu.


Informasi berbagai keinginan profesi kukumpulkan. Pikirku profesi yang sejalan dengan membesarkan anak adalah menjadi guru. Memang background pendidikanku kurang sesuai. Ijazahku sarjana ilmu sosial. Tapi disini untuk menjadi seorang guru akan diberikan pendidikan. Semua latar belakang pendidikan diterima untuk menjadi guru disini. Pernah kucoba mengirim lamaran untuk menjadi seorang guru. Aku sedih lamaranku ditolak. Lalu kutepis impianku menjadi wanita karir. Kali ini muncul hasrat untuk melanjutkan studi. "Ayah aku sekolah lagi aja ya?"

Memang Suamiku tidak melarang," Boleh, tapi setelah Ayah selesai dulu ya Bu. Gantian kan."

Suami memang saat itu sedang mengambil S2. Dan itu menjadi salah satu alasannya pindah kerja kemari, sambil dapat melanjutkan sekolah. Aku urung lagi. Tak mungkin rasanya aku tega menitipkan anak perempuan kecilku demi keinginanku mengejar hasratku ini.

Suatu ketika, suami mengajak ke pengajian di sebuah Mesjid. Ternyata pengajian orang Indonesia. Wah senang sekali aku bisa berkenalan dengan orang Indonesia disini. Mereka juga sama seperti kami, keluarga muda Indonesia yang membesarkan anak di Singapura. Rata-rata ibu-ibu semua bekerja di rumah, mengurus rumah dan anak-anak. Dari situ aku mulai punya teman. Baru aku merasakan ada warna dalam rutinitasku.

Merenung dan bercermin pada Ibuku. Beliau seorang ibu rumah tangga. Namun ibu yang serba bisa; jago memasak, menjahit dan tidak tergantung pada bantuan Bapak. Segala urusan beliau begitu cekatan, mulai dari aktif dalam organisasi wanita sampai urusan ke perbaikan rumah. Seringkali kurindukan nasihatnya. Menjadikan aku sadar bahwa menjadi ibu lebih penting dari pada bekerja di luar rumah.

" Masa kamu kalah sama Ibu?" Kalimat ibuku yang sering terngiang bila aku sedang kesal dengan keseharianku.


Kini, aku bersyukur hari-hariku terasa berwarna. Aku dikaruniai seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Tidak ada rasa malu bagiku menjadi seorang ibu rumah tangga. Aku punya kelompok pengajian dengan teman-teman Indonesia. Tiap bulan aku mendapat kesempatan membantu pelatihan pembantu di KBRI. Keberadaan broadband internet juga semakin menghiburku dengan informasi, komunikasi, bertukar-pikiran juga chatting. Ada beberapa mailing list aku ikuti, termasuk FLP dan FLP Singapura. Ternyata potensi diri seseorang tidak harus diasah diluar rumah.

Suatu kali tetanggaku bertanya,"Kamu tidak bekerja ya?"

Aku menganggukkan kepala, " Saya bekerja di rumah"

"Betah ya kamu seharian mengurus rumah?" tanyanya lagi

" AlhamduliLlah," jawabku sambil tersenyum dan mencium anakku.

----------------------------------------------------

~Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (Q.s. Ibrahim: 7)~

insya allah betah. dan lia adalah teman indonesia ku pertama di singapur thanks dah diajak ikut pengajian. jadi kenal banyak lagi teman :D

wah.. iya ya mba... kita bisa jawab seperti jawaban mba lia itu kalo ada yang tanya apa kita bekerja atau nggak. Selama ini saya jawabnya 'nggak'. Mulai sekarang kalo ada yang tanya begitu lagi saya akan jawab: Saya bekerja di rumah.
^_^

Post a Comment

Archives

Hadist

"Jika hamba-Ku berniat melakukan kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, Aku menulis baginya satu kebaikan. Jika ia mengerjakannya, Aku menulis sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat untuknya

Dan jika ia berniat melakukan kejelekan dan ia tidak melakukannya Aku tidak menulis kejahatan baginya, dan jika ia melakukannya Aku menulis satu kejahatan baginya." [HR. Muslim] --

Free Counter
Free Counter