Belajar menulis cerpen anak
Cerita ini terinspirasi dari pengalaman pribadi ketika tahun 1988, sewaktu ikut bapak 5 builan jobtraining di Melbourne. Saya sempat sekolah dan mengalami hari-hari di luar negeri.
STRESS SEKOLAH BARU
"Ranii, ayo bangun sayang! Sudah Subuh." terdengar suara Mama membangunkan tidurku. Brr! dingin sekali rasanya hawa hari ini, ketika kutendang selimutku. Ugh..rasanya mataku masih lengket, ngantuk! Kuseret langkahku menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. " Rani, hari ini kamu mama antar sekolah, siap-siap ya! nanti habis Subuh langsung mandi." Kata Mama yang sudah menungguku untuk sholat berjamaah. "Iya Ma!' Jawabku singkat.
Mendengar kata 'sekolah' kali ini bikin aku gugup dan takut. Padahal sebelumnya sekolah bagiku begitu menyenangkan. Sekolah bagiku jadi rumah kedua setelah rumah. Ya, ini sekolah yang lain memang. Sekolah yang baru akan aku masuki hari ini di negara asing pula. Aku takut karena harus berbahasa Inggris nantinya. Meski sebelum pindah kemari aku sudah kursus dan menguasai dasar percakapan Inggris, aku masih takut.
Lima hari ini aku tinggal di sebuah Flat dua kamar tidur di kota Melbourne, Australia. Ini karena Papa pindah tugas dari Jakarta. Belum tahu untuk berapa lama, kata Papa tergantung sikon. Dan kelihatanya Papa akan menjadi pegawai tetap disini. Aku sempat sedih juga karena berpisah dengan sobat-sobatku dan sekolahku yang begitu menyenangkan.
Pasti nanti teman-teman orang bule semua, dan mereka pasti cuma bisa bahasa Inggris. Sedangkan aku nanti mau ngobrol dengan siapa ya? Duh, ngeri deh rasanya belum lagi nanti jam sekolahnya lama, dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, bakalan ngapain aja ya? Gimana kalau nanti aku diejek-ejek dan dianggap anak aneh karena aku bukan bule?Lalu apakah gurunya galak dan aku akan dimaki-maki 'stupid' karena dari Indonesia dan tidak lancar ngomong bahasa Inggrisnya.
Perutku terasa melilit tapi tidak ingin buang air besar. " Ranii! ngapain aja sih dari tadi mandinya kok ga selesai-selesai? cepetan dong! adikmu kan mau mandi juga." teriakan Mama membuatku kaget dari lamunan akan sekolahku nanti." Iya Ma! Rani sakit perut niih...mandinya sudah selesai kok!" Lalu Mama mengusapkan minyak kayu putih di perutku sambil berujar" Hehehe, takut ya sekolah sampai sakit perut. Ndak apa-apa nanti telepon Mama saja kalo sakit di sekolah. Mama jemput pulang"
"Ma, Rayhan juga sekolah ditempat yang sama ya?" tanyaku. " Iya, tapi dia malah seneng tuh! Lihat sudah siap sarapan mau bawa tas padahal belum mandi. Ayo sana sarapan, sudah jam 8 ini. Sekolahmu mulai jam 9 nanti terlambat!"
Sekolah yang baru, seperti apa ya? Gurunya galak ndak ya? Belajar apa saja ya? Kok Mama ndak belikan buku? mungkin beli di sekolah. Gimana nanti kalau pelajarannya susah ya? Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benakku dan membuat kepalaku berdenyut-denyut, nyeri. Sarapan nasi goreng rasanya seperti hambar, susu segelas tak sanggup kuhabiskan. Perasaanku takut, dadaku berdebar-debar, tangan dan kaki terasa gemetar semakin melihat adik Rayhan yang ceria siap pergi sekolah.
"Ayo Rani sayang, masak kalah sama Rayhan yang hepi mau sekolah. Kamu kok kakaknya malah takut, cemberut gitu? nanti kalau Rayhan nangis kan yang nolong kamu." Bujuk Mama sembari keluar flat dan menuju lift. Rayhan baru 6 tahun, Tk nol besar, dia tahunya cuma main-main dan berteman saja kalau di sekolah. Memang asyik sih nanti punya kenalan dan teman baru, tapi bagi anak kelas 5 SD sepertiku malah hal yang asing dan baru justru menakutkan.
" Hello dear! So you're Rani. I'm Mrs Julie Cook. How are you today, darling?"Wanita bule tersenyum dan mengulurkan tangan. " Yes, I am Rani. And I am fine, thank you Mrs Cook." Jawabku terbata-bata, gugup.Sosok wanita bule berambut pirang itu menyapa dan menggandengku,"Let me show you your classroom. You are in grade 5. Dont worry everything will be okay!" Lalu aku berpisah dengan Mama dan Rayhan di ruang 'school's office'. Aku pingin nangis tapi malu sama adik. Malah kulihat adikku jingkrak-jingkrak kegirangan" I want to play in the playground teacher!" Rayhan Inggrisnya fasih karena mama sering berkomunikasi Inggris dengannya." Your lil brother's class is over there, dear!" tunjuk Mrs Cook ketika melewati kelas Rayhan.
Dadaku makin terasa sesak, kuatur napasku pelan-pelan. Kuangkat-angkat alisku biar kepalaku tak begitu berdenyut-denyut." Class, we have new student here. Her name is Khairani Ahmad. She is from Indonesia. Here are your classmates Rani. Don't be shy" Mrs Cook memperkenalkanku. Aku malu menunduk, kulihat ternyata tidak semua berambut pirang. Ada yang berwajah Asia, bermata sipit, juga ada yang berwajah Afrika dan....eh...kok ada yang berwajah melayu. Aku lalu berusaha tersenyum, rasanya nampak kaku " Hello friends, you can call me Rani. But I'm sorry my English is not good" Sebagai kata perkenalan yang nampaknya kaku karena aku stress dengan suasana asing.
Ternyata Mrs Cook begitu perhatian, beliau memberiku tempat duduk disamping anak melayu itu. " Hey, My name Annisa Sidek. I come from Malaysia. Just let me know if I can help you, Ok?". Aduuh senangnya! Alhamdulillah aku punya sudah teman yang baik. Nyess...serasa es yang mencair dalam hati. Plong! Lega! Fuiih...akhirnya aku bisa bernapas lega, dan tersenyum lebar. "Thank you very much Annisa! Nice to meet you." Kuremas tangannya dengan senyumku yang bisa dilepaskan.
Tidak terasa sudah jam pulang pukul empat sore. Ternyata pelajarannya tidak sulit. Matematika bisa dibilang aku sudah pernah belajar. "Anak-anak disini kok banyak yang belum hafal sama perkalian, ya Ma! Rani selalu bisa menjawab soalnya "
Sepertinya aku sudah menyenangi sekolah baruku ini. Ada Mrs.Cook yang ramah, Annisa yang akan menjadi 'my bestfriend' juga pelajarannya yang tidak sulit.
STRESS SEKOLAH BARU
"Ranii, ayo bangun sayang! Sudah Subuh." terdengar suara Mama membangunkan tidurku. Brr! dingin sekali rasanya hawa hari ini, ketika kutendang selimutku. Ugh..rasanya mataku masih lengket, ngantuk! Kuseret langkahku menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. " Rani, hari ini kamu mama antar sekolah, siap-siap ya! nanti habis Subuh langsung mandi." Kata Mama yang sudah menungguku untuk sholat berjamaah. "Iya Ma!' Jawabku singkat.
Mendengar kata 'sekolah' kali ini bikin aku gugup dan takut. Padahal sebelumnya sekolah bagiku begitu menyenangkan. Sekolah bagiku jadi rumah kedua setelah rumah. Ya, ini sekolah yang lain memang. Sekolah yang baru akan aku masuki hari ini di negara asing pula. Aku takut karena harus berbahasa Inggris nantinya. Meski sebelum pindah kemari aku sudah kursus dan menguasai dasar percakapan Inggris, aku masih takut.
Lima hari ini aku tinggal di sebuah Flat dua kamar tidur di kota Melbourne, Australia. Ini karena Papa pindah tugas dari Jakarta. Belum tahu untuk berapa lama, kata Papa tergantung sikon. Dan kelihatanya Papa akan menjadi pegawai tetap disini. Aku sempat sedih juga karena berpisah dengan sobat-sobatku dan sekolahku yang begitu menyenangkan.
Pasti nanti teman-teman orang bule semua, dan mereka pasti cuma bisa bahasa Inggris. Sedangkan aku nanti mau ngobrol dengan siapa ya? Duh, ngeri deh rasanya belum lagi nanti jam sekolahnya lama, dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, bakalan ngapain aja ya? Gimana kalau nanti aku diejek-ejek dan dianggap anak aneh karena aku bukan bule?Lalu apakah gurunya galak dan aku akan dimaki-maki 'stupid' karena dari Indonesia dan tidak lancar ngomong bahasa Inggrisnya.
Perutku terasa melilit tapi tidak ingin buang air besar. " Ranii! ngapain aja sih dari tadi mandinya kok ga selesai-selesai? cepetan dong! adikmu kan mau mandi juga." teriakan Mama membuatku kaget dari lamunan akan sekolahku nanti." Iya Ma! Rani sakit perut niih...mandinya sudah selesai kok!" Lalu Mama mengusapkan minyak kayu putih di perutku sambil berujar" Hehehe, takut ya sekolah sampai sakit perut. Ndak apa-apa nanti telepon Mama saja kalo sakit di sekolah. Mama jemput pulang"
"Ma, Rayhan juga sekolah ditempat yang sama ya?" tanyaku. " Iya, tapi dia malah seneng tuh! Lihat sudah siap sarapan mau bawa tas padahal belum mandi. Ayo sana sarapan, sudah jam 8 ini. Sekolahmu mulai jam 9 nanti terlambat!"
Sekolah yang baru, seperti apa ya? Gurunya galak ndak ya? Belajar apa saja ya? Kok Mama ndak belikan buku? mungkin beli di sekolah. Gimana nanti kalau pelajarannya susah ya? Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benakku dan membuat kepalaku berdenyut-denyut, nyeri. Sarapan nasi goreng rasanya seperti hambar, susu segelas tak sanggup kuhabiskan. Perasaanku takut, dadaku berdebar-debar, tangan dan kaki terasa gemetar semakin melihat adik Rayhan yang ceria siap pergi sekolah.
"Ayo Rani sayang, masak kalah sama Rayhan yang hepi mau sekolah. Kamu kok kakaknya malah takut, cemberut gitu? nanti kalau Rayhan nangis kan yang nolong kamu." Bujuk Mama sembari keluar flat dan menuju lift. Rayhan baru 6 tahun, Tk nol besar, dia tahunya cuma main-main dan berteman saja kalau di sekolah. Memang asyik sih nanti punya kenalan dan teman baru, tapi bagi anak kelas 5 SD sepertiku malah hal yang asing dan baru justru menakutkan.
" Hello dear! So you're Rani. I'm Mrs Julie Cook. How are you today, darling?"Wanita bule tersenyum dan mengulurkan tangan. " Yes, I am Rani. And I am fine, thank you Mrs Cook." Jawabku terbata-bata, gugup.Sosok wanita bule berambut pirang itu menyapa dan menggandengku,"Let me show you your classroom. You are in grade 5. Dont worry everything will be okay!" Lalu aku berpisah dengan Mama dan Rayhan di ruang 'school's office'. Aku pingin nangis tapi malu sama adik. Malah kulihat adikku jingkrak-jingkrak kegirangan" I want to play in the playground teacher!" Rayhan Inggrisnya fasih karena mama sering berkomunikasi Inggris dengannya." Your lil brother's class is over there, dear!" tunjuk Mrs Cook ketika melewati kelas Rayhan.
Dadaku makin terasa sesak, kuatur napasku pelan-pelan. Kuangkat-angkat alisku biar kepalaku tak begitu berdenyut-denyut." Class, we have new student here. Her name is Khairani Ahmad. She is from Indonesia. Here are your classmates Rani. Don't be shy" Mrs Cook memperkenalkanku. Aku malu menunduk, kulihat ternyata tidak semua berambut pirang. Ada yang berwajah Asia, bermata sipit, juga ada yang berwajah Afrika dan....eh...kok ada yang berwajah melayu. Aku lalu berusaha tersenyum, rasanya nampak kaku " Hello friends, you can call me Rani. But I'm sorry my English is not good" Sebagai kata perkenalan yang nampaknya kaku karena aku stress dengan suasana asing.
Ternyata Mrs Cook begitu perhatian, beliau memberiku tempat duduk disamping anak melayu itu. " Hey, My name Annisa Sidek. I come from Malaysia. Just let me know if I can help you, Ok?". Aduuh senangnya! Alhamdulillah aku punya sudah teman yang baik. Nyess...serasa es yang mencair dalam hati. Plong! Lega! Fuiih...akhirnya aku bisa bernapas lega, dan tersenyum lebar. "Thank you very much Annisa! Nice to meet you." Kuremas tangannya dengan senyumku yang bisa dilepaskan.
Tidak terasa sudah jam pulang pukul empat sore. Ternyata pelajarannya tidak sulit. Matematika bisa dibilang aku sudah pernah belajar. "Anak-anak disini kok banyak yang belum hafal sama perkalian, ya Ma! Rani selalu bisa menjawab soalnya "
Sepertinya aku sudah menyenangi sekolah baruku ini. Ada Mrs.Cook yang ramah, Annisa yang akan menjadi 'my bestfriend' juga pelajarannya yang tidak sulit.