HARUSKAH LEBARAN MUDIK?
Sepertinya sudah jadi tradisi dan kebiasaan kalo moment Hari Raya itu untuk Silaturrahmi mengunjungi orang tua.
Saya jadi ingat ketika masa kecil, keluarga kami yang tinggal di pelosok Sumatra (dulu kota tempat tinggal kami itu masih sepi, tidak seramai sekarang).Kami sekeluarga hampir selalu mudik ke rumah mbah di Surabaya dan Plaosan, Jawa timur.Perjalanan yang kita tempuh lumayan juga; naik pesawat sampai Jakarta lalu besoknya ganti kereta Api ke Surabaya. Pernah juga kita naik mobil dengan pakde dari jakarta ke Surabaya. Di Surabaya, kala itu masih ada mbah putri dari ibu. Dan aku masih ingat sepertinya dulu musim lebaran juga musim liburan sekolah. Meski cuma ada 3 keluarga yg menginap di rumah itu; Semua saudara ibu yang ada 8 orang dan rata2 sudah berkeluarga selalu kumpul di hari raya pertama. Seingatku rumah bude yang ditempati mbah putri itu bisa jadi rame dengan orang. Belum lagi ada juga saudara dari mbah putri dan alm. mbah kakung.
Lalu di hari raya kedua atau ketiga, biasanya kami pergi ke Plaosan, rumah alm. mbah dari bapak. Sekitar 6-7 jam dari Surabaya. Di sana sowan sana-sini silaturahmi ke rumah family bapak. Kalau di tempat tinggal bapak ini, sepertinya semua dianggap masih kerabat dekat karena ternyata dulunya penduduk di daerah ini melestarikan kekerabatannya dengan pernikahan dengan sesama family, kalau kekarabatannya sudah makin jauh, biasanya mereka mendekatkan kembali dengan besanan. Tapi ternyata saudara2 bapak cuma dua orang yang menikah dengan orang sedaerahnya.
Namun setelah mbah putri Surabaya meninggal, tradisi berlebaran mudik ke Surabaya sepertinya pudar. sekarang, Bapak dan Ibu lebih senang lebaran di rumah, apalagi sejak bapak memutuskan untuk menetap di P. Sumatera.
Kini....
Kitapun tidak mudik berhari raya dengan orang tua. Adik-adikkupun juga tidak mudik; mereka pada sibuk dengan sekolahnya. Begitupula di pihak suami; ada kakak ipar yang tinggalnya jauh di P.Papua.
Menyenangkan memang...berkumpul dengan keluarga. Namun bukankah silaturrahmi bukan hanya terbatas di Hari raya?
Kuingin, membuatnya berkesan bagi Arsy yang Alhamdulillah ramadhan kali ini dia sudah belajar puasa.
Apakah Hari Raya harus mudik?
Semua orang berkehendak sama; harus mudik; akibatnya jalan macet; angkutan penuh; biaya transportasi umum naik;...apakah kita mesti memaksakan diri?
---ramadhan hampir usai---
---Kan kurindu selalu Ramadhan-ramadhan depan---
---TaqabaLlahu minna wa minkum---
Eid Mubarrak
Selamat Idul Fitri
Hari Kemenangan Diri
Semoga semakin Taqwa
Saya jadi ingat ketika masa kecil, keluarga kami yang tinggal di pelosok Sumatra (dulu kota tempat tinggal kami itu masih sepi, tidak seramai sekarang).Kami sekeluarga hampir selalu mudik ke rumah mbah di Surabaya dan Plaosan, Jawa timur.Perjalanan yang kita tempuh lumayan juga; naik pesawat sampai Jakarta lalu besoknya ganti kereta Api ke Surabaya. Pernah juga kita naik mobil dengan pakde dari jakarta ke Surabaya. Di Surabaya, kala itu masih ada mbah putri dari ibu. Dan aku masih ingat sepertinya dulu musim lebaran juga musim liburan sekolah. Meski cuma ada 3 keluarga yg menginap di rumah itu; Semua saudara ibu yang ada 8 orang dan rata2 sudah berkeluarga selalu kumpul di hari raya pertama. Seingatku rumah bude yang ditempati mbah putri itu bisa jadi rame dengan orang. Belum lagi ada juga saudara dari mbah putri dan alm. mbah kakung.
Lalu di hari raya kedua atau ketiga, biasanya kami pergi ke Plaosan, rumah alm. mbah dari bapak. Sekitar 6-7 jam dari Surabaya. Di sana sowan sana-sini silaturahmi ke rumah family bapak. Kalau di tempat tinggal bapak ini, sepertinya semua dianggap masih kerabat dekat karena ternyata dulunya penduduk di daerah ini melestarikan kekerabatannya dengan pernikahan dengan sesama family, kalau kekarabatannya sudah makin jauh, biasanya mereka mendekatkan kembali dengan besanan. Tapi ternyata saudara2 bapak cuma dua orang yang menikah dengan orang sedaerahnya.
Namun setelah mbah putri Surabaya meninggal, tradisi berlebaran mudik ke Surabaya sepertinya pudar. sekarang, Bapak dan Ibu lebih senang lebaran di rumah, apalagi sejak bapak memutuskan untuk menetap di P. Sumatera.
Kini....
Kitapun tidak mudik berhari raya dengan orang tua. Adik-adikkupun juga tidak mudik; mereka pada sibuk dengan sekolahnya. Begitupula di pihak suami; ada kakak ipar yang tinggalnya jauh di P.Papua.
Menyenangkan memang...berkumpul dengan keluarga. Namun bukankah silaturrahmi bukan hanya terbatas di Hari raya?
Kuingin, membuatnya berkesan bagi Arsy yang Alhamdulillah ramadhan kali ini dia sudah belajar puasa.
Apakah Hari Raya harus mudik?
Semua orang berkehendak sama; harus mudik; akibatnya jalan macet; angkutan penuh; biaya transportasi umum naik;...apakah kita mesti memaksakan diri?
---ramadhan hampir usai---
---Kan kurindu selalu Ramadhan-ramadhan depan---
---TaqabaLlahu minna wa minkum---
Eid Mubarrak
Selamat Idul Fitri
Hari Kemenangan Diri
Semoga semakin Taqwa
Met Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin Ya buat Lia n family (Mas Bayu, Aci & Wil).
Silaturahmi memang nggak sebatas hari lebaran, tapi momen lebaran itu memang istimewa, rata2 keluarga bisa kumpul karena ada hari libur yg lumayan panjang. Kemarin pulang agak maksain jg, tadinya nggak, karena kakak di Sby yg 9 thn nggak lebaran di Bogor akhirnya pulang..:-).
Posted by
eChie |
1:14 PM